Anon Kuncoro

23 Agu 2008 11:17:24

Menguak sejarah asal-usul Si Batara

Di kerajaan Buton nama Si Batara sangat melekat sekali dalam mengukir sejarah kerajaan Buton. Si Batara adalah suami dari Raja Wa Kaa Kaa. Sedangkan Raja Wa Kaa Kaa adalah seorang raja wanita yang konon keturunan dari China yang pernah memerintah sebagai raja pertama Buton pada tahun 1332. Disebutkan pula Si Batara adalah putra bangasawan Majapahit yang saat itu berada di Buton.

Saya melakukan penelitian ini dengan mengunakan dan membaca beberapa literatur online yang ada di internet dengan bantuan Google.

Siapakah sebenarnya Si Batara?

Awalnya sangat sulit menemukan literatur tentang kata kunci "Si Batara" atau "Sibatara" dengan menggunakan mesin pencari Google. Karena hanya sedikit informasi yang didapatkan dan informasi terebut hanya itu-itu saja. Sampai pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa nama Si Batara itu adalah hanya pengucapan dialek untuk kata "Sri Bathara". Nah disini mulai sedikit ada titik cerah tentang Sibatara. Jadi sebenarnya nama Sibatara itu adalah pengucapan dialek orang Buton saja untuk menyebut Sri Bathara.

Disebutkan pula dalam sejarah Buton bahwa Sibatara adalah putra bangsawan Majapahit. Saya mulai juga membaca-baca beberapa literatur tentang sejarah kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya sebagai keturunan dari Kerajaan Singasari yang telah hancur. Raden Wijaya dilantik menjadi Raja Majapahit yang pertama pada tanggal 12 November 1293. Pada saat itu Raden Wijaya bergelar Sri Maharaja Sanggramawijaya Sri Kertarajasa Jayawarddhana. Raden Wijaya menikah dengan Dara Petak. Dara Petak adalah seorang putri dari kerajaan Kerajaan Dharmasraya di Sumatera. Sebenarnya istri Raden Wijaya ini masih mempunyai tiga istri yang lain, tetapi Dara Petak ini dijadikan istri yang dituakan daripada istri-istri yang lain dengan sebutan gelar Stri Tinuheng Pura (istri yang dituakan di istana). Selain itu Dara Petak mempunyai gelar Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari.

Dari pernikahan Raden Wijaya dengan Dara Petak ini kemudian lahir seorang putra yang bernama Jayanegara. Setelah Raden Wijaya mangkat/wafat pada tahun 1309. Maka kelanjutan tahta Majapahit jatuh ke tangan Jayanegara. Saat menjadi Raja Majapahit yang kedua, Jayanegara mempunyai gelar Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara. Pada masa pemerintahan Jayanegara ini, kerajaan Majapahit banyak mengalami pemberontakan dari berbagai wilayah. Pemberontakan itu dilakukan karena rasa tidak puas dengan pengangkatan Jayanegara menjadi Raja Majapahit, karena Jayanegara dianggap bukan "asli putra daerah" dikarenakan ibu Jayanegara adalah orang Sumatera. Jadi pada masa pemerintahan Jayanegara ini hanya dipenuhi gejolak pemberontakan.

Pemberontakan pada masa Jayanegara antara lain:
- pemberontakan Ranggalawe
- pemberontakan Lembu Sora
- pemberontakan Juru Demung (1313)
- pemberontakan Gajah Biru (1314)
- pemberontakan Mandana dan Pawagal (1316)
- pemberontakan Nambi (1316)
- pemberontakan Ra Semi (1316)
- pemberontakan Ra Kuti (1319)

Dari sekian banyak pemberontakan diatas, pemberontakan yang paling besar adalah pemberontakan Ra Kuti pada tahun 1319 yang berhasil menguasai istana kotaraja (ibukota) Majapahit berhasil direbut kaum pemberontak. Sehingga memaksa Jayanegara bersama keluarganya mengungsi meninggalkan istana. Dalam pengungsiannya tersebut Jayanegara dikawal oleh pasukan Bhayangkari yang dipimpin oleh Gajah Mada. Karena waktu itu Gajah Mada masih menjabat sebagai pimpinan pasukan Bhayangkari. Namum tidak beberapa lama ibukota Majapahit berhasil direbut kembali oleh pasukan Bhayangkari yang dipimpin oleh Gajah Mada. Serta pemberontak Ra Kuti berhasil ditaklukkan dan kerajaan Majapahit berhasil direbut kembali oleh Jayanegara.

Setelah Jayanegara kembali duduk sebagai raja Majapahit dan kembali memegang kekuasaan, hubungan Majapahit dengan China (saat itu dikuasai oleh Dinasti Yuan / Mongol) sudah mulai membaik. Hal ini dibuktikan dengan dikirimnya Adiytawarman untuk menjadi duta Majapahit untuk China pada tahun 1325.

Meskipun Jayanegara telah memegang kembali kepemimpinan Majapahit setelah pemberontakan Ra Kuti, tetapi dalam kenyataannya masih banyak sisa-sisa kelompok masyarakat yang belum puas dan sakit hati pada Jayanegara. Hingga akhirnya Jayanegara jatuh sakit dan didatangkan seorang tabib bernama Ra Tanca. Sebenarnnya Ra Tanca juga masih mempunyai dendam pada Jayanegara sehingga dia berpura-pura akan mengobati Jayanegara. Saat prosesi pengobatan Jayanegara tersebut diawasi oleh Gajah Mada. Karena saat itu Gajah Mada menjadi pengawal kesayangan Jayanegara. Tapi dengan akal liciknya Ra Tanca berhasil membunuh Jayanegara saat berpura-pura mengobati Jayanegara. Mengetahui rajanya terbunuh, langsung saja Gajah Mada segera menghukum mati Ra Tanca saat itu juga. Dari kejadian pembunuhan Jayanegara ini istana Majapahit menjadi heboh. Keadaan kerajaan Majapahit saat itu menjadi guncang. Bisa kita bayangkan juga ada pembuhuhan raja maka keadaan pemberintahan dan kerajaan menjadi guncang.

Banyak disebutkan di literatur bahwa Jayanegara tidak memiliki putra mahkota untuk dijadikan penggantinya menjadi Raja Mahapahit. Karena itu ditunjuklah Dyah Gitarja yaitu adik ipar Jayanegara untuk menjadi raja Majapahit berikutnya. Dyah Gitarja ini kemudian bergelar Sri Tribhuwanotunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani dan mulai memerintah Majapahit pada tahun 1329.

Kalau kita melihat literatur bahwa Jayanegara saat terbunuh tersebut belum sempat menggangkat putra mahkota yang nantinya akan menggantikannya. Tapi hal ini bukan berarti Jayanegara sampai akhir hayatnya belum memiliki istri. Karena saat terbunuh tersebut usia Jayanegara adalah 34 tahun. Jika kita berpikir secara logika pada saat usia tersebut pastilah Jayanegara telah mempunyai istri (selir), apalagi mengingat posisi Jayanegara adalah sebagai raja Majapahit. Sudah pasti Jayanegara memiliki istri tetapi belum sempat ditetapkan sebagai permaisuri atau istri utama, yang nantinya keturunannya bernah menjadi putra mahkota yang akan berhak menggantikan Jayanegara.

Mulai disinilah kita membandingkan beberapa literatur Buton ditemukan bahwa Sibatara atau Sri Bathara adalah putra dari Jayanegara. Bisa diambil kesimpulan bahwa pada saat Jayanegara terbunuh, istri (selir) Jayanegara yang merasa terancam kedudukannya di istana Majapahit. Salah seorang selir tersebut saat terjadi gejolak di kerajaan Majapahit tersebut dia melarikan diri. Istri Jayanegara (selir) itulah ibu dari Sibatara atau Sri Bathara. Kemungkinan besar saat terjadi keguncangan pemerintahan Majapahit itu dia melarikan diri sampai di pulau Buton dengan membawa putranya yang bernama Sri Bathara.

Sesampainya di pulau Buton inilah nantinya Sri Bathara menikah dengan Wa Kaa Kaa. Wa Kaa Kaa adalah raja pertama kerajaan Buton yang memerintah mulai tahun 1332. Dari pernikahan antara Raja Wa Kaa Kaa dengan Sri Bathara ini kemudian lahir seorang putri bernama Bulawambona. Bulawambona nantinya menggantikan Wa Kaa Kaa menjadi penerus kerajaan Buton.

 

 Silsilah Hubungan Kerajaan Buton - Majapahit - Mongol


Gambar 1
Silsilah Hubungan Kerajaan Buton - Majapahit - Mongol

 

 

 

 

 

 

 

12 Okt 2008 22:24:55   nachem
Mas anon yang memperhatikan daerah sultra meski bukan lahir dsitu ;) , Ken Arok pendiri kerajaan Singosari juga bergelar SRI Rajasa BATHARA Sang Amurwabumi. Gimana ni mas...

12 Okt 2008 22:32:04   nachem
http://buton.wordpress.com/2007/11/17/iv-sultan-dayanu-ikhsanuddin/ disini disebutkan "Sri Batara Putra Raja Manyuba (Jayanegara)" atau Sri Bathara = Jayanegara yang diracun oleh tabib Ra Tanca boleh tau literatur lengkap yang mereferensika Sri Batara sebagai keturunan Jayanegara?

13 Okt 2008 11:25:22   Anon Kuncoro
Pak Nachem, Kalo Arok ceritanya sudah jelas dapat dipastikan dia tidak sampai lari ke tanah Buton. Selain itu tahun hidup Ken Arok juga jauh beda dengan Sri Bathara (Si Batara) yang kemudian berada di Buton. Ken Arok memerintah kerajaan Singasari hidup antara thn 1227-1247. Sedangkan Sibatara berada di Buton sekitar thn 1332. Jauh jauh bedanya, sehingga tidak mungkin tuh orang yang sama.

13 Okt 2008 11:29:57   Anon Kuncoro
"Selanjutnya Bulawambona adalah putri Wa Kaa Kaa Ratu Buton I buah perkawinannya dengan Sri Batara Putra Raja Manyuba (Jayanegara)" Maksud dari kalimat itu adalah Sri Bathara putra dari Raja Manyuba (Jayanegara). Jadi Sri Bathara anak dari Jayanegara.

07 Apr 2009 18:51:44   Hariru
hebat...!!! mas anon bukan keturunan buton tp punya perhatian yg besar thdp biton. aku jd malu.... teruskan mas ke topik yg lain ya.... sukses!!!!

07 Jun 2009 04:07:02   ishadi
mas anon punya gambar eyang sri ga kalo ada kirimin donk ke aku

26 Agu 2009 23:19:54   ode rifai basoegi
mas anon.... dikatakan bahwa wa kaa kaa merupakan keturunan dari kubalai khan ( seorang muslim) dan putri jayakatwang/Ratnasari.. juga dikatakan wa kaa kaa(Sitty quraisy fakhriy dzatima/anak dari pasangan Abdullah badiy uz-zamani fuaq quraisy, cucu syaikh abdul syukur sepupu rasulullah dan rabhiyatum cucu rasulullah SAW) dari mana sbnarnya asal wa kaa kaa, china? arab? yang pasti entah dari arab ataupun china, wa kaa kaa adalah seorang muslim yang menjadi pemimpin di buton mulai tahun 1332. artinya boleh dikatakan islam telah dikenal dan menjadi agama pemimpin di buton sejak saat itu, artinya dengan demikian maka keluarga kerajaan dan tentulah pengikut serta masyarakatnyapun boleh dikatakan telah memeluk islam... nah..... yang menjadi kebimbangan saya adalah..... dikatakan bahwa islam pertama kali dibawa ke buton oleh kesultanan ternate, dimana kolano(pemimpin)ke-18 ternate yang pertama memeluk islam bersama seluruh keluarganya yaitu kolano Marhum(1465-1486)dan kemudian dilanjutkan oleh putranya Sultan Zainal Abidin(1486-1500) memang jauh sebelum itu (abad 13/1257an) ternate telah ramai dengan aktivitas perdagangan oleh pedagang arab dan china. bila dibandingkan tahun keislaman pemimpin ternate( kolano marhum) dan kedatangan serta kepemimpinan wa kaa kaa yang tidak lain keturunan kubalai khan/ ada yang katakan keturunan Rasulullah di buton (tentulah seorang yang Islam), maka tentulah islam telah jauh menjadi agama yang dianut para pemimpin di tanah buton di bandingkan dengan di ternate...... apakah benar ternate yang menyiarkan islam di tanah buton? tolong dong mas di luruskan.... wasalam

22 Des 2009 15:29:12   wolverine
masuk akal analisisnya. Karena selama dari artikel2 yg saya baca. Jayaengara itu tidak punya keturunan. Masa sih raja ga punya istri atau sekedar selir...?? iya ga? Salut buat mas anon. By the way... kubilai khan itu belum memeluk ISlam. Kubilai Khan itu penganut agama pagan lokal di darah mongol.

Post Comment

Name

E-mail

Comments





Anon Kuncoro W.
Anon Kuncoro W.

Tuliskanlah komentar pada artikel yang Anda baca agar lebih berkesan. Terima kasih

Post