18 Nop 2008 11:21:37
Allah tidak ndeso
Suatu kali Emha Ainun Nadjib (cak Nun) ditodong pertanyaan beruntun."Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan
menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk
shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke
rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"
Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan."
"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya.
"Ah, mosok Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun. "Kalau saya memilih shalat Jumat,
itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum
tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai
credit point pribadi.
Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak
berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu.
Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.
Kata Tuhan: Kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau
engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau
memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.
Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga
orang ini?
Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi
korupsi uang negara.
Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan
hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat
permusuhan.
Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal,
tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara,
itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat,
itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang
rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang
suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang
sesungguhnya sembahyang dan membaca Al-Quran.
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar
kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian
atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya : kasih
sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain,
memberi, membantu sesama.
Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, ikut misa, atau
ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan
berkasih sayang.
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama
tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita
cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke kebaktian, ikut misa, datang ke
pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila
saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi
makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.
Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya,
melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi
kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan
tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda
agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan social pada kaum
mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan
haknya.
Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi.
Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa
meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Post Comment