Keikhlasan Berbagi Tanpa Sekat Agama
Selasa, 9 Desember 2008 | 01:12 WIBKabut tebal turun seiring datangnya hujan, Senin (8/12) tengah hari, dingin menyelusup ke rumah-rumah berdinding bambu di Dusun Gunung Gambar, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Di balik pintu-pintu kayu, dingin itu lumer oleh keikhlasan untuk berbagi tanpa sekat agama.
Tangan keriput Gito (70) gemetar menata nyala kayu di tungku tanah liat. Bau daging kambing direbus menyeruak di dapur berlantai tanah itu. Setiap Idul Adha Gito memperoleh satu kilogram daging kambing.
Dusun Gunung Gambar dihuni 74 keluarga yang menganut beragam kepercayaan. Umumnya Hindu dan Islam. Gito yang memeluk agama Hindu memiliki tujuh anak. Hanya satu anak yang mengikuti jejak Gito.
Anak perempuan Gito, Wantiyem (38) dan suaminya, Slamet Yudi Iswantara (40), memeluk agama Islam. Rumah mereka berjarak sekitar 10 meter dari rumah Gito.
Menurut Wantiyem, warga desa iuran Rp 10.000 per bulan per keluarga untuk tabungan pembelian hewan kurban. Penyembelihan hewan kurban dilakukan para pemuda desa tanpa membedakan agama.
Kerukunan yang terajut dalam perbedaan itu tak hanya tampak pada hari raya kurban. Dua tempat ibadah, Masjid An Nur dan Pura Ngesti Brata Dharma, yang berdiri kokoh di antara rumah penduduk merupakan wujud nyata keikhlasan berbagi.
Ayah Slamet, Wiro Sumarto (85). yang beragama Hindu, mewakafkan tanahnya seluas 250 meter persegi untuk dibangun masjid.
Sebaliknya, Slamet yang Muslim menjual tanahnya seharga Rp 3 juta tahun 1994 untuk pembangunan pura desa. Padahal, nilai tanah itu sebenarnya Rp 30 juta. "Ini tabungan untuk akhirat. Hidup kami ini saling memanusiakan," kata Slamet.
Sebagian orang mengira, tidak mudah merenda hidup bersama dalam perbedaan agama. Namun, hal itu terasa ringan ketika dilakukan dengan ikhlas.
Slamet memang keliru menyebut toleransi dengan telovansi, tetapi di kehidupan nyata ia dan sanak saudaranya di Gunung Gambar justru mampu mempraktikkannya secara benar. (Mawar Kusuma)
Sumber: Kompas

Post Comment