Anon Kuncoro

05 Apr 2009 07:59:37

Ketika Insya Allah dijadikan alasan

Kalimat "Insya Allah" sesungguhnya mempunyai arti yang teramat tinggi dan suci yang berarti "bila Allah menghendaki".

 

"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu 'sesungguhnya aku akan mengerjakan esok,' kecuali (dengan mengucapkan) insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah 'mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini." (QS Al-Kahfi: 23-24).

 

Sebenarnya "Insya Allah" ini memiliki falsafah yang mendalam yaitu:
Pertama, dalam kalimat ini tersimpan keyakinan yang kukuh bahwa manusia dalam menjalankan segala kegiatan dan urusan akan selalu melibatkan Allah SWT. Dan Allah SWT akan selalu mengetahui kegiatan tersebut.
Kedua, sebagai ekspresi kerendahan diri manusia (tawadhu') karena manusia tidak akan dapat menentukan apa yang akan terjadi esok kemudian hari. Hanya Allah SWT yang dapat mengetahui dan menentukan yang akan terjadi esok.
Ketiga, sebagai usaha penyerahan diri kepada Allah SWT. Dengan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT tentunya kita akan mempersiapkan sesuatu hal tersebut menjadi yang terbaik. Seperti halnya kita menyerahkan tugas kepada atasan kita di kantor, tentunya sebelum tugas tersebut diserahkan pastilah kita mempersiapkan yang terbaik dan berusaha sebaik-baiknya menjalankannya.

 

Tetapi apa yang terjadi saat ini?
"Insya Allah" dijadikan sebuah sebuah alasan dari ketidakmampuan atau kemalasan kita untuk mengerjakan sesuatu. Jadi kata "Insya Allah" sekarang berubah arti menjadi "Gak janji deh....".
Kalimat ini seakan dijadikan kelonggaran untuk memegang teguh sebuah komitmen dan tanggung jawab yang diberikan. Nama Allah SWT dijadikan pembenaran atas kemalasan diri untuk menepati janji dan tanggung jawab. "Insya Allah" dijadikan sebuah legitimasi ketika kita tidak memenuhi janji kita. Kan saya sudah berkata "Insya Allah" kalau saya tidak datang ya berarti Allah tidak mengijinkan toh...???
Segampang itukah kita beralasan untuk menutupi kemalasan kita, dengan menjadikan Allah SWT menjadi tameng perbuatan kita untuk menghindar dari tanggung jawab.

 


05 Jan 2010 14:36:21   online
Terima kasih atas informasi menarik

Post Comment

Name

E-mail

Comments





Anon Kuncoro W.
Anon Kuncoro W.

Tuliskanlah komentar pada artikel yang Anda baca agar lebih berkesan. Terima kasih

Post